Renungan Harian
Senin 16 Maret 2026
Yunus 1: 2
“Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku.”
Renungan: “Bangkitlah, Tuhan Masih Mengasihi”
Kita sedang berada pada minggu-minggu Passion. Di tengah perjalanan iman yang biasanya dipenuhi dengan perenungan, pertobatan, dan kerendahan hati, gereja memberikan satu pesan yang menguatkan: bersukacitalah, sebab kasih Tuhan tidak pernah habis. Seperti matahari yang tetap bersinar setelah malam yang panjang, demikianlah kasih Allah tetap menyinari dunia yang sering kali gelap oleh dosa.
Firman Tuhan dari Yunus 1:2 memperlihatkan sesuatu yang sangat dalam tentang hati Allah. Tuhan berkata kepada Yunus: “Bangunlah, pergilah ke Niniwe.” Niniwe adalah kota besar yang terkenal karena kejahatan dan kekerasannya. Dalam sejarah kuno, kota ini adalah bagian dari kerajaan Asyur yang sangat kuat dan sering menindas bangsa-bangsa lain, termasuk Israel.
Bagi Yunus, pergi ke Niniwe bukanlah tugas yang mudah. Itu seperti pergi kepada musuh, kepada orang-orang yang tidak disukai, bahkan mungkin dibenci. Tetapi justru ke tempat itulah Tuhan mengutus nabi-Nya.
Di sini kita melihat bahwa Allah memperhatikan dunia ini dengan sangat serius. Tidak ada kejahatan yang luput dari perhatian-Nya. Ketika firman Tuhan mengatakan bahwa kejahatan Niniwe “sampai kepada Tuhan”, itu menggambarkan bahwa Allah melihat penderitaan manusia, melihat ketidakadilan, dan mendengar jeritan orang-orang yang tertindas. Namun yang sangat menyentuh adalah ini: Allah tidak langsung menghukum mereka. Ia terlebih dahulu mengutus seorang nabi. Itulah kasih Allah; kasih yang memberi kesempatan untuk bertobat.
Teolog besar gereja, Karl Barth, pernah berkata: “The gospel is the good news that God has not abandoned the world.” Injil adalah kabar baik bahwa Allah tidak meninggalkan dunia. Walaupun dunia sering melukai hati Tuhan, Ia tidak pergi meninggalkan ciptaan-Nya. Ia tetap memanggil manusia untuk kembali kepada-Nya.
Firman Tuhan juga dimulai dengan kata yang sangat kuat: “Bangunlah.” Kata ini seperti suara yang membangunkan seseorang dari tidur yang panjang. Dalam kehidupan rohani, manusia sering kali bisa “tertidur”. Kita menjadi terbiasa dengan dosa di sekitar kita. Kita melihat ketidakjujuran, kesombongan, kemarahan, dan ketidakpedulian, tetapi lama-lama kita tidak lagi merasa terganggu. Hati menjadi tumpul.
Karena itu Tuhan berkata kepada Yunus: Bangunlah. Ini bukan hanya panggilan kepada Yunus. Ini juga panggilan kepada setiap orang percaya. Tuhan memanggil umat-Nya untuk tidak hidup dalam ketidakpekaan rohani. Ia memanggil kita untuk bangkit dan menjadi terang bagi dunia di sekitar kita.
Dalam kehidupan jemaat dan keluarga, panggilan ini juga sangat nyata. Kadang-kadang kita melihat anggota keluarga yang mulai jauh dari Tuhan, hubungan yang mulai dingin, atau kehidupan yang mulai dipenuhi kesibukan tanpa ruang bagi Tuhan. Tanpa disadari, iman menjadi hanya rutinitas.
Namun Tuhan tetap memanggil: Bangunlah. Seorang bapa gereja yang terkenal, Augustine of Hippo, pernah berkata: “God loves each of us as if there were only one of us.” Allah mengasihi setiap manusia seolah-olah hanya ada satu manusia di dunia ini. Kasih seperti inilah yang menjadi terang dalam Minggu Letare. Tuhan tidak hanya mengasihi orang-orang yang dekat dengan-Nya. Ia juga mengasihi mereka yang jauh, yang tersesat, bahkan yang kita anggap tidak layak.
Karena itu, ketika kita membaca Yunus 1:2, kita juga diingatkan untuk melihat diri kita sendiri. Mungkin ada bagian hidup kita yang seperti Niniwe, bagian hati yang masih penuh kesombongan, kemarahan, atau ketidakpedulian. Tetapi kabar baiknya adalah: Tuhan tidak menyerah terhadap kita.
Ia masih memanggil kita dengan lembut: Bangkitlah. Kembalilah kepada-Ku. Masa minggu Passion mengajarkan bahwa di tengah perjalanan pertobatan, Tuhan juga memberi pengharapan dan sukacita. Sukacita itu bukan karena kita sudah sempurna, tetapi karena Tuhan masih bekerja dalam hidup kita. Ia memanggil. Ia menunggu. Ia mengasihi.
Karena itu, marilah kita membuka hati kita hari ini. Dengarkan suara Tuhan yang berkata: “Bangunlah.” Bangkit dari iman yang dingin. Bangkit dari hati yang lelah. Bangkit untuk kembali berjalan bersama Tuhan. Sebab selama Tuhan masih memanggil kita, itu berarti kasih-Nya masih terbuka bagi kita. Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, MTh
