BAPAK: IMAM – PEMIMPIN – PENJAGA IMAN Laporan Kegiatan Penelaahan Alkitab (PA) Punguan Ama HKBP Slipi

WARTA KEGIATAN | HKBP SLIPI Kamis, 5 Februari 2026
BAPAK: IMAM – PEMIMPIN – PENJAGA IMAN
Laporan Kegiatan Penelaahan Alkitab (PA) Punguan Ama HKBP Slipi

BAPAK: IMAM – PEMIMPIN – PENJAGA IMANLaporan Kegiatan Penelaahan Alkitab (PA) Punguan Ama HKBP Slipi
BAPAK: IMAM – PEMIMPIN – PENJAGA IMAN
Laporan Kegiatan Penelaahan Alkitab (PA) Punguan Ama HKBP Slipi

 

Hari / Tanggal
Kamis, 5 Februari 2026
Tempat
Gedung Gereja HKBP Slipi, Jakarta Barat
Kegiatan
Penelaahan Alkitab (PA) Punguan Ama HKBP Slipi
Pembicara
Pdt. Mori Sihombing, MTh
Ayat Bacaan
Ulangan 11:18–21
Tema 2026
Tahun Transformasi HKBP 2026: Pengajaran Iman dalam Keluarga

“Tetapi kamu harus menaruh perkataanKu ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu … supaya panjang umurmu dan umur anak-anakmu di tanah yang dijanjikan TUHAN.” — Ulangan 11:18–21

Pembukaan Kegiatan
Pada hari Kamis, 5 Pebruari 2026, Punguan Ama HKBP Slipi untuk pertama kalinya menyelenggarakan kegiatan Penelaahan Alkitab (PA) khusus bagi kaum bapak. Tonggak bersejarah ini menjadi awal dari program pembinaan rohani yang diharapkan akan terus berlanjut secara rutin, dan untuk PA perdana ini dipercayakan kepada Pdt. Mori Sihombing, MTh sebagai pembicara. Kegiatan berlangsung penuh semangat dan menghadirkan bahan refleksi yang sangat relevan bagi kehidupan bergereja dan berkeluarga di masa kini.
PA bulan Pebruari ini diselenggarakan dalam semangat Tahun Transformasi HKBP 2026 dengan subtema besar: Pengajaran Iman dalam Keluarga. Topik yang dibahas sangat strategis: “Bapak – Imam – Pemimpin – Penjaga Iman.” Dengan berlandaskan Ulangan 11:18–21, Pdt. Mori Sihombing membawa para peserta pada satu pemahaman yang mendalam tentang panggilan mulia seorang bapak dalam keluarga Kristen.

Tahun Transformasi HKBP 2026: Panggilan Pengajaran Iman
Pdt. Mori Sihombing membuka pemaparan dengan menegaskan konteks besar PA hari itu: HKBP menetapkan 2026 sebagai Tahun Transformasi, dan salah satu pilar utamanya adalah penguatan pengajaran iman di dalam keluarga. Dalam kerangka inilah peran seorang bapak menjadi sangat sentral. Bapak bukan sekadar kepala keluarga dalam pengertian administratif, melainkan seorang imam, pemimpin, dan penjaga iman yang bertanggung jawab atas arah rohani seluruh anggota keluarganya.
Dasar Alkitabiah yang dipakai adalah Ulangan 11:18–21, di mana Allah dengan tegas memerintahkan umat-Nya untuk menaruh firman-Nya dalam hati dan jiwa, mengikatkannya pada tangan, menjadikannya lambang di dahi, mengajarkannya kepada anak-anak di setiap kesempatan — duduk, berjalan, berbaring, dan bangun — bahkan menuliskannya pada tiang pintu rumah. Perintah ini, ditegaskan Pendeta, adalah mandat langsung bagi setiap bapak di rumahnya.

Peran Bapak di Tengah Keluarga: Sekolah Pertama
Pdt. Sihombing menekankan bahwa keluarga adalah sekolah pertama bagi setiap anak: tempat nilai-nilai kehidupan, kerja keras, dan cita-cita pertama kali ditanamkan. Bapak dan ibu, bersama-sama, berperan sebagai guru luar biasa — mengacu pada Amsal 11:1 dan 15:20 — yang dipanggil menjadi penyayang, pendoa, pemaaf, dan teladan yang paling dikagumi oleh anak-anak mereka.
Pendeta menggambarkan enam wujud nyata peran bapak dalam keluarga yang sehat secara rohani:
• Baca Alkitab dan Berdoa bersama keluarga: Membangun mezbah doa keluarga setiap hari sebagai fondasi spiritual rumah tangga.
• Ibu Melatih Anak — Bapak Menopang: Bapak hadir dan mendukung proses pembentukan karakter anak, tidak menyerahkan sepenuhnya kepada ibu.
• Pengajaran dan Diskusi: Bapak terlibat aktif dalam mendiskusikan nilai-nilai iman dan kehidupan bersama anak-anak.
• Melatih Kemandirian: Mempersiapkan anak menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.
• Waktu Bercengkerama: Memberikan kualitas waktu kebersamaan yang membangun kedekatan emosional dan spiritual.
• Liburan Bersama: Menciptakan kenangan berharga keluarga yang memperkuat ikatan dan identitas sebagai keluarga Allah.

Ama Na Marsahala: Bapak yang Berwibawa
Salah satu poin paling berkesan dalam PA ini adalah pembahasan tentang konsep Ama na Marsahala, yakni bapak yang memiliki wibawa sejati. Pdt. Sihombing menjelaskan bahwa wibawa seorang bapak bukan bersumber dari jabatan, kekayaan, atau kekuasaan semata, melainkan dari otoritas (eksousian) yang berakar pada keteladanan hidup. Yesus sendiri — sebagai Guru dan Pelayan — menjadi model kepemimpinan yang membuat orang takjub (tongam) karena Ia mengajar dengan kuasa yang nyata (Matius 7:8; Markus 1:22).
“Sinuan bulu sibahen na ropu, sinuan bulu sibahen na tumundal.
Ama do parjabu, na gabe sibahen na martua.”
(Pepatah Batak: Bapak adalah kepala rumah tangga, yang menjadi sumber berkat bagi keluarganya)

Empat ciri bapak yang berwibawa dipaparkan: memiliki wibawa sebagai pemimpin, selalu menyemangati keluarga, dicintai dan digandrungi anak-anaknya, serta mampu menenangkan hati di tengah gejolak. Wibawa ini tidak tumbuh begitu saja, tetapi dibangun melalui konsistensi hidup benar, kehadiran yang bermakna, dan kuasa firman Allah yang nyata dalam keseharian.

Pemimpin yang Mempengaruhi: Integritas sebagai Kunci
Pdt. Sihombing memperluas pembahasan pada dimensi kepemimpinan yang lebih luas. Seorang bapak yang menjadi pemimpin sejati adalah bapak yang mempengaruhi keluarganya menuju kebaikan — bukan dengan paksaan, melainkan dengan keteladanan dan integritas. Beliau mengutip pandangan Presiden AS ke-34, Dwight D. Eisenhower, bahwa kualitas tertinggi kepemimpinan adalah integritas, karena tanpanya tidak ada keberhasilan sejati dalam bidang apapun.
Ilustrasi Kepemimpinan: John Quincy Adams pernah berkata: “Jika tindakanmu menginspirasi orang lain untuk bermimpi lebih besar, belajar lebih banyak, berbuat lebih banyak, dan menjadi lebih baik, maka engkaulah seorang pemimpin.” Ukuran kepemimpinan seorang bapak bukan pada gelar atau jabatannya, melainkan pada pengaruh positif yang ia tinggalkan dalam hidup anak-anaknya.

Perubahan Krusial yang Dihadapi Kaum Bapak
Salah satu bagian yang paling menggugah kesadaran dalam PA ini adalah pemaparan tentang perubahan krusial yang tengah menggerus peran bapak dalam keluarga dan gereja. Pdt. Sihombing menunjukkan dua tantangan besar yang saling terkait: degradasi peran bapak sebagai imam keluarga, dan minimnya keterlibatan kaum bapak dalam kegiatan gerejawi di tingkat huria, ressort, maupun distrik.
Pendeta menggunakan tiga ilustrasi kuat: pertama, membangun Bahtera Nuh yang butuh 100 tahun ketekunan (Kejadian 5), menggambarkan bahwa membangun keluarga iman memerlukan kesabaran dan kegigihan lintas generasi. Kedua, sosok nakhoda kapal yang menjadi pengarah dan penuntun arah dalam badai, menggambarkan bapak yang harus memegang kendali keluarga dengan hikmat. Ketiga, roda kemudi yang menunjukkan bahwa penyertaan Tuhan (steering) adalah kunci keberhasilan, bukan semata kerja keras dan kecerdasan (IQ-EQ-SQ).
Memahami Siapa Bapak dan Siapa Generasi yang Dilayani
Pdt. Sihombing mengajak peserta untuk memahami lanskap generasi yang ada saat ini. Kaum bapak HKBP umumnya berada pada kategori Baby Boomers (usia 52–70 tahun) dan Generasi X (usia 37–51 tahun), sedangkan anak-anak mereka adalah Generasi Z dan Gen Alpha yang tumbuh dalam dunia digital. Kesenjangan ini bukan penghalang, melainkan panggilan untuk menjembatani dengan kasih, hikmat, dan otoritas firman.
Data statistik HKBP pun dipaparkan secara jujur: dari sekitar 1.879.290 jiwa anggota HKBP (2021), sebesar 65% atau sekitar 1.235.000 jiwa adalah anak-anak, remaja, dan pemuda. Artinya, ada 1.235.000 jiwa muda yang membutuhkan bimbingan iman — dan bapak-bapak dalam keluarga mereka adalah lini terdepan yang tidak boleh lengah.

Bapak sebagai Pembaharu Gereja Masa Depan
Bagian akhir dari pengajaran Pdt. Sihombing membawa visi yang menggerakkan: bapak-bapak HKBP adalah pembaharu gereja masa depan. Tongkat estafet iman harus diwariskan kepada generasi muda — orang-orang muda harus diposisikan di garis terdepan (sebagai pembawa bendera), sementara generasi tua dengan penuh hikmat menggeser diri ke barisan belakang untuk mendukung dan mendoakan.
Pendeta mendorong para bapak untuk aktif terlibat dalam rekrutmen Generasi X dan Y sebagai motivator — bukan sekadar menjadi sintua ceremonial. Keterlibatan akademisi, peneliti, dan para ahli berbagai bidang dalam pelayanan gereja pun menjadi kebutuhan mendesak. Alokasi dana gereja sebesar 65% untuk Sekolah Minggu, remaja, dan pemuda diusulkan sebagai wujud nyata komitmen gereja kepada masa depannya.
Penutup dan Seruan Refleksi
Pdt. Mori Sihombing, MTh menutup PA Punguan Ama HKBP Slipi bulan Pebruari ini dengan sebuah seruan yang penuh kasih sekaligus menantang: setiap bapak dipanggil untuk kembali ke posisi yang Tuhan tetapkan — sebagai imam, pemimpin, dan penjaga iman keluarga. Bukan posisi yang mewah, tetapi posisi yang penuh tanggung jawab dan penuh berkat.
Empat fokus praktis yang dibawa pulang oleh peserta: rekrut Generasi X dan Y menjadi motivator aktif; libatkan akademisi dan para ahli dalam pelayanan; tingkatkan kualitas hidup bersama anak-anak, remaja, dan pemuda; serta dorong gereja mengalokasikan lebih banyak perhatian dan dana untuk generasi muda. Semua ini bertumpu pada satu fondasi: bapak yang mau mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anaknya — saat duduk, berjalan, berbaring, dan bangun — sesuai amanat Ulangan 11.

Dokumentasi: Punguan Ama HKBP Slipi · Kamis, 5 Pebruari 2026
Pembicara: Pdt. Mori Sihombing, MTh · Ulangan 11:18–21
Punguan Ama HKBP Slipi | Penelaahan Alkitab Pebruari 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *