RENUNGAN HARIAN Senin 2 Maret 2026

RENUNGAN HARIAN
Senin 2 Maret 2026

Yehezkiel 3: 17
“Hai anak manusia, Aku telah menetapkan engkau menjadi penjaga kaum Israel. Bilamana engkau mendengarkan sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka atas nama-Ku.”

Renungan: “Penjaga di Tengah Ketidakpastian”

Saudara/i yang terkasih, Firman Tuhan hari ini membawa kita kepada panggilan yang serius dan mulia. Melalui nabi Yehezkiel, Tuhan menyatakan bahwa ia ditetapkan sebagai penjaga bagi umat Israel. Seorang penjaga berdiri di tempat tinggi, mengawasi keadaan sekelilingnya, peka terhadap tanda-tanda bahaya, dan tidak boleh tertidur. Tugasnya bukan sekadar melihat, tetapi memberi peringatan demi keselamatan banyak orang.

Renungan ini ditulis dari Amman, Jordan, di tengah suasana dunia yang sedang bergejolak. Ketegangan perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat perjalanan kami tertunda. Kami menunggu izin untuk terbang kembali ke Jakarta. Penantian ini menghadirkan rasa tidak pasti, kekhawatiran, bahkan kelelahan batin. Namun justru di tengah situasi seperti inilah firman Tuhan berbicara dengan kuat: tetaplah menjadi penjaga.

Menjadi penjaga berarti pertama-tama belajar mendengar. Yehezkiel diperintahkan untuk mendengarkan firman Tuhan sebelum menyampaikannya. Dalam ketidakpastian, kita mudah dipenuhi suara ketakutan, berita yang simpang siur, dan kecemasan. Tetapi penjaga rohani tidak digerakkan oleh ketakutan, melainkan oleh firman yang ia dengar dari Tuhan. Di tengah suara perang dan kabar yang menggelisahkan, kita memilih untuk lebih peka terhadap suara Tuhan.

Menjadi penjaga juga berarti bertanggung jawab atas sesama. Kita dipanggil bukan hanya untuk menjaga diri sendiri, tetapi untuk saling menguatkan. Di antara rombongan yang menunggu, di tengah keluarga dan jemaat yang mengikuti perkembangan dari jauh, kita saling menopang dalam doa dan pengharapan. Setiap kata penguatan, setiap doa yang dinaikkan, menjadi seperti suara penjaga yang berkata, “Tuhan tetap memegang kendali.”

Penjaga tidak selalu dapat menghentikan badai, tetapi ia dapat memastikan bahwa orang-orang bersiap dan tidak kehilangan arah. Kita mungkin tidak dapat mengubah situasi geopolitik dunia, tetapi kita dapat memastikan bahwa hati kita tetap tertambat pada Tuhan.

Firman-Nya menjadi menara tempat kita berdiri, dan janji-Nya menjadi dasar pengharapan kita.

Hari ini, kita percaya bahwa Tuhan yang memanggil juga Tuhan yang memelihara. Ia tidak pernah lalai menjaga umat-Nya. Jika kita ditetapkan sebagai penjaga, itu berarti Ia terlebih dahulu adalah Penjaga atas hidup kita.

Kiranya di tengah ketidakpastian dunia, kita tetap setia mendengar firman-Nya, setia menyuarakan pengharapan, dan setia percaya bahwa Tuhan menuntun setiap langkah hingga kita. Amin.

Amman, Jordan.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *