RENUNGAN HARIAN Rabu 18 Februari 2026

 

Pengkhotbah 3: 1
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.

Renungan: “Indah pada Waktu-Nya”

Kitab Pengkhotbah sering terasa jujur dan realistis. Penulisnya, yang secara tradisi dihubungkan dengan Salomo, berbicara tentang kehidupan apa adanya: tentang kerja keras, kegagalan, sukacita, kehilangan, dan misteri waktu. Dalam pasal 3, ia membuka dengan satu pernyataan yang sangat dalam: “Untuk segala sesuatu ada masanya.”

Ayat ini mengingatkan kita bahwa hidup tidak berjalan secara acak. Ada ritme. Ada musim. Ada waktu untuk lahir dan waktu untuk meninggal, waktu untuk menanam dan waktu untuk mencabut, waktu untuk menangis dan waktu untuk tertawa. Kita mungkin tidak selalu memahami mengapa suatu musim datang, tetapi iman menolong kita percaya bahwa setiap musim ada dalam kedaulatan Tuhan.

Sering kali kita ingin mempercepat waktu. Saat sedang menderita, kita ingin musim itu segera berlalu. Saat sedang bahagia, kita berharap waktu berhenti. Namun Pengkhotbah mengajarkan bahwa kebijaksanaan bukanlah menguasai waktu, melainkan menerima dan menjalani setiap musim dengan takut akan Tuhan.

Ayat ini juga mengajarkan kerendahan hati. Kita tidak memegang kendali penuh atas hidup. Rencana bisa berubah. Harapan bisa tertunda. Tetapi di balik perubahan musim, ada Allah yang tetap. Dialah yang mengatur waktu. Tidak ada satu detik pun yang lepas dari pengawasan-Nya.
Bagi kita hari ini, mungkin sedang berada dalam musim yang berat: pergumulan keluarga, tekanan pelayanan, masalah kesehatan, atau tantangan pekerjaan. Firman ini menenangkan hati kita: musim ini pun ada waktunya. Ia tidak kekal. Tuhan tahu kapan memulai dan kapan mengakhiri.Sebaliknya, jika hari-hari ini adalah musim sukacita, ayat ini juga mengingatkan kita untuk bersyukur dan tidak menjadi sombong. Musim indah adalah anugerah, bukan hasil kekuatan sendiri.

Pengkhotbah 3:1 mengajak kita hidup dengan iman dan kesabaran. Tidak memberontak terhadap waktu, tetapi bertanya: “Tuhan, apa yang ingin Engkau ajarkan kepadaku di musim ini?” Ketika kita belajar menerima musim hidup bersama Tuhan, hati kita menjadi lebih tenang.
Karena pada akhirnya, bukan panjangnya musim yang terpenting, melainkan apakah kita berjalan bersama Tuhan di dalamnya. Kiranya hari ini kita belajar mempercayakan waktu kita kepada-Nya. Amin.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *