RENUNGAN HARIAN Jumat 6 Februari 2026

Nehemia 2: 20
Aku menjawab mereka, kataku: “Allah semesta langit, Dialah yang membuat kami berhasil! Kami, hamba-hamba-Nya, telah siap untuk membangun. Tetapi kamu tak punya bagian atau hak dan tidak akan diingat di Yerusalem!”

Renungan: “Allah Semesta Langit Akan Membuat Kami Berhasil”

Nehemia 2:20 lahir dari sebuah situasi pemulihan yang tidak mudah. Bangsa Israel memang telah kembali dari pembuangan, tetapi kehidupan mereka belum sungguh pulih. Yerusalem masih menyimpan luka masa lalu yang nyata: tembok kota yang runtuh, pintu-pintu yang terbakar, dan rasa malu sebagai umat pilihan Allah yang hidup tanpa perlindungan. Tembok yang roboh bukan hanya persoalan fisik, melainkan simbol kehancuran identitas, keamanan, dan harga diri umat Tuhan. Di tengah keadaan inilah Nehemia dipanggil Allah untuk memimpin pembangunan kembali, bukan sebagai imam atau nabi, melainkan sebagai seorang awam yang hatinya digerakkan oleh belas kasihan dan doa.

Ketika Nehemia mulai melangkah menjalankan panggilan itu, perlawanan segera muncul. Sanbalat, Tobia, dan Gesyem tidak hanya menentang secara politik, tetapi juga melemahkan secara psikologis melalui ejekan dan ancaman. Mereka meremehkan pekerjaan Nehemia dan berusaha memadamkan semangat umat. Dalam situasi seperti ini, Nehemia tidak terpancing emosi dan tidak sibuk membela diri. Ia justru menyatakan dengan tegas dasar keyakinannya: “Allah semesta langit akan membuat kami berhasil.” Pengakuan ini menunjukkan bahwa pusat kepercayaan Nehemia bukanlah pada kekuatan manusia, rencana kerja, atau dukungan politik, melainkan pada Allah yang berdaulat atas seluruh langit dan bumi. Dengan menyebut Allah sebagai “semesta langit,” Nehemia menegaskan bahwa Allah Israel tidak terbatas oleh wilayah, kekuasaan, atau ancaman manusia mana pun.

Keyakinan bahwa Allah akan membuat mereka berhasil bukanlah optimisme kosong. Nehemia sadar betul bahwa jalan ke depan penuh risiko dan tantangan. Namun ia percaya bahwa keberhasilan sejati bukan ditentukan oleh ketiadaan masalah, melainkan oleh kesetiaan Allah yang menyertai pekerjaan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Keberhasilan dalam iman tidak selalu berarti tanpa penderitaan, tetapi berarti bahwa Allah sendiri terlibat aktif di dalam proses itu dan akan menggenapkan rencana-Nya pada waktunya.

Nehemia kemudian menyebut dirinya dan umat sebagai “hamba-hamba-Nya.” Pernyataan ini penting karena menunjukkan identitas yang membentuk sikap hidup. Sebagai hamba Allah, mereka tidak bekerja demi kepentingan pribadi atau kehormatan diri, melainkan sebagai wujud ketaatan kepada Tuhan. Identitas ini memberi keberanian sekaligus kerendahan hati. Keberanian untuk melangkah meskipun ditentang, dan kerendahan hati untuk menyadari bahwa keberhasilan bukan milik manusia, melainkan anugerah Allah.

Iman Nehemia tidak berhenti pada pengakuan verbal. Ia melanjutkan dengan pernyataan, “kami akan bangun dan membangun.” Di sini tampak jelas bahwa iman sejati selalu bersifat aktif. Nehemia tidak bersandar pada mukjizat tanpa usaha, dan tidak pula mengandalkan usaha tanpa iman. Ia memadukan kepercayaan penuh kepada Allah dengan tanggung jawab manusia untuk bekerja, berkorban, dan bertahan. Pembangunan tembok menjadi gambaran bahwa iman yang hidup selalu diwujudkan dalam tindakan nyata, meskipun hasilnya belum terlihat.

Bagian akhir ayat ini menunjukkan ketegasan Nehemia terhadap mereka yang menentang pekerjaan Allah. Ia menyatakan bahwa para penentang tidak memiliki bagian, hak, dan kenangan di Yerusalem. Pernyataan ini bukan didorong oleh kebencian pribadi, melainkan oleh kesadaran bahwa karya Allah tidak dapat dikerjakan oleh hati yang menolak kehendak-Nya. Nehemia menjaga kekudusan misi agar pembangunan yang dilakukan tidak tercemar oleh motivasi yang salah.

Bagi kehidupan jemaat sehari-hari, Nehemia 2:20 berbicara sangat relevan. Banyak orang percaya hidup dengan “tembok-tembok” yang runtuh: keluarga yang retak, iman yang melemah, pelayanan yang lesu, atau masa depan yang terasa rapuh. Firman ini meneguhkan bahwa Allah yang berdaulat tidak tinggal diam melihat kehancuran umat-Nya. Ia memanggil, menyertai, dan memampukan, bahkan melalui orang-orang biasa yang bersedia taat.

Firman ini juga menguatkan jemaat yang mengalami ejekan atau penolakan karena berusaha hidup benar. Tidak semua suara harus dijawab dengan pembelaan diri. Kadang, kesaksian iman yang paling kuat adalah keteguhan untuk tetap melangkah bersama Allah. Selain itu, Nehemia 2:20 mengajak jemaat untuk tidak pasif menunggu pertolongan Tuhan, melainkan bangkit dan membangun bagian hidup yang dipercayakan Allah, dengan iman, kerja keras, dan ketekunan.

Akhirnya, renungan ini mengingatkan jemaat bahwa Allah semesta langit masih bekerja sampai hari ini. Ia masih memanggil umat-Nya untuk bangun dari keputusasaan dan membangun hidup yang memuliakan nama-Nya. Di tengah tantangan dan keterbatasan, iman yang bersandar pada Allah akan menemukan kekuatan untuk terus melangkah. Allah yang memanggil adalah Allah yang setia menyertai dan menggenapkan pekerjaan-Nya. Amin.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *