2 Samuel 2: 6
Oleh sebab itu, TUHAN kiranya menunjukkan kasih dan setia-Nya kepadamu. Aku pun akan berbuat kebaikan yang sama kepadamu, karena kamu telah melakukan hal yang demikian.
Renungan:
“Kasih dan Setia di Tengah Peralihan Zaman”
2 Samuel 2:6 lahir dari momen genting dalam sejarah Israel: Saul baru saja mati, negeri berduka, dan kekuasaan bergeser dari rumah Saul ke Daud. Di tengah situasi rapuh itu, Daud menyapa orang-orang Yabesh-Gilead yang dengan berani menguburkan Saul secara hormat, sebuah tindakan penuh risiko politik yang bisa membahayakan mereka. Kata-katanya, “TUHAN kiranya menunjukkan kasih dan setia-Nya kepadamu,” menggenggam dua pilar iman Israel: kasih (ḥesed) yang berarti kebaikan penuh komitmen, dan setia (’emet) yang menandakan konsistensi Allah yang tak tergoyahkan oleh pergantian raja atau badai kehidupan.
Di Jakarta yang berubah cepat: dari politik hingga pola hidup sehari-hari, firman ini menegaskan bahwa fondasi umat Allah bukan stabilitas dunia, melainkan karakter Tuhan yang abadi, tak ikut musiman seperti tren kota besar.
Daud tak sekadar memuji; ia menghormati masa lalu tanpa terjebak di dalamnya. Ia memuliakan kesetiaan Yabesh-Gilead kepada Saul, sang raja yang pernah mengejarnya mati-matian, tanpa menghapus sejarah atau mengutuknya secara mentah. Penghormatan ini bukan kelemahan, melainkan kekuatan: mengakui bahwa di balik retakan sejarah, ada tindakan setia yang layak diteruskan dalam bentuk baru.
Bagi jemaat Jakarta, pelajaran ini menusuk tajam. Di tengah arus perubahan budaya, generasi baru sering meremehkan warisan lama, sementara generasi tua memeluk tradisi tanpa ruang pembaruan. Firman mengajak sikap Daud: lihat kelemahan masa lalu dengan jujur, tapi jangan tutup mata pada kesetiaan yang nyata di dalamnya, sehingga gereja maju tanpa kehilangan akar.
Lebih dalam lagi, sikap Daud menyiratkan hikmat politik yang lahir dari hati rohani. Ia tak datang dengan ancaman atau klaim takhta, melainkan berkat dan janji: “Aku pun akan berbuat kebaikan yang sama kepadamu.” Ini bukan sekadar strategi untuk menarik wilayah utara; seluruh hidup Daud mencerminkan penantian Tuhan, bukan perebutan kuasa.
Di budaya Jakarta yang transaksional: di mana kebaikan sering jadi alat tawar-menawar, tantangan ini menusuk: apakah kebaikan jemaat lahir dari tulus hati yang meneladani Allah, atau hanya “investasi sosial” demi balasan? Daud mendoakan kasih Tuhan bagi mereka, lalu berkomitmen menjadi jawaban doa itu sendiri. Di kota penuh target dan tekanan, firman ini undang jemaat berkata bukan hanya “Tuhan memberkati,” tapi “Aku pun akan menyatakannya melalui tindakan.”
Keseragaman kecil Yabesh-Gilead, menempuh perjalanan berbahaya hanya untuk mengurus jenazah raja yang kalah, adalah teladan ketekunan yang Tuhan catat besar. Dunia mungkin anggap itu sia-sia, tapi di hadapan-Nya, kesetiaan tersembunyi itu memicu berkat dari raja baru. Di Jakarta, berapa banyak pelayanan kecil yang tak viral: orang tua letih yang tetap doakan anak, pelayan gereja yang siapkan kursi pagi-pagi, atau warga jemaat yang rawat orang sakit tanpa pujian? Allah melihatnya semua, dan firman Daud bergema: “TUHAN kiranya menunjukkan kasih dan setia-Nya kepadamu…” bukti bahwa tidak ada yang sia-sia di mata-Nya.
Pada intinya, ayat ini undang jemaat Jakarta hidup dua arah: terima kasih Tuhan di tengah ketidakpastian kota, dan pancarkan karakter-Nya melalui kebaikan konkret kepada keluarga, tetangga, bahkan yang pernah menyakiti. Di antara gedung tinggi dan kemacetan, Tuhan bentuk komunitas yang berakar pada kasih-setia-Nya, memantulkannya tanpa mengharap tepuk tangan.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th
