RENUNGAN HARIAN
Senin 19 Januari 2026
Rut 1: 16
Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku;
Renungan:
“Dari Allahmu Menjadi Allahku”
Melihat Rut di Tengah Luka
Rut mengucapkan kalimat ini bukan di saat semuanya baik-baik saja, tetapi ketika suami sudah mati, masa depan tidak jelas, dan ia sedang diajak “pulang saja” ke kehidupan lamanya. Ia memilih tetap berjalan bersama Naomi, seorang perempuan yang pahit dan merasa ditinggalkan Tuhan. Dalam situasi seperti itu, kesetiaan Rut tidak romantis, tetapi berat dan beresiko.
Di sini tampak bahwa iman yang matang sering justru lahir di tengah luka, bukan di tengah kenyamanan. Pilihan Rut mengajar bahwa ketaatan kepada Tuhan sering berarti berani tinggal di situasi yang tidak mudah, tetapi di sanalah Tuhan membentuk dan menyertai.
Dari Kedekatan Sosial ke Keputusan Pribadi
Selama ini Rut hidup “dekat” dengan Naomi dan iman Israel, tetapi di jalan menuju Betlehem itu ia mengambil langkah baru: ia tidak hanya setia sebagai menantu, tetapi juga mengambil Allah Naomi sebagai Allahnya sendiri. Ia tidak lagi sekadar ikut budaya, tradisi, atau keluarga; ia masuk dalam hubungan pribadi dengan Allah.
Sampai hari ini banyak orang berada dalam posisi “dekat” dengan iman: lahir di keluarga Kristen, aktif di gereja, akrab dengan pelayanan, tetapi belum sungguh berkata di hadapan Tuhan, “Engkaulah Allahku.” Pengakuan Rut menantang setiap orang untuk tidak puas hanya dengan “ikut arus rohani,” tetapi mengambil keputusan pribadi di hadapan Allah.
Melepaskan “Moab”
Ketika Rut berkata, “Bangsamulah bangsaku,” ia melepaskan Moab: tanah asal, rasa aman, dan ilah-ilah lamanya. Ia masuk ke bangsa yang mungkin memandangnya asing dan rendah. Itu gambaran seseorang yang berani meninggalkan pola pikir lama, kebiasaan dosa, dan identitas yang tidak sejalan dengan kehendak Tuhan.
“Moab” hari ini bisa berupa ambisi yang tidak sehat, ego yang mengikat, hubungan yang tidak kudus, atau cara hidup yang bertentangan dengan firman. Mengikuti Tuhan berarti berani berkata: “Aku tidak kembali ke sana, meski rasanya lebih nyaman.” Tanpa melepaskan Moab, sulit benar-benar berkata, “Allahmulah Allahku.”
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th
