RENUNGAN HARIAN Jumat 16 Januari 2026

 

Hakim-hakim 6: 12
Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian: “TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.”

Renungan:
“Pahlawan di Tempat Pemerasan Anggur”

Di sudut gelap tempat pemerasan anggur, Gideon menapi gandum dengan tangan gemetar, mata waspada ke segala arah. Ia bukan petani biasa yang bekerja di bawah sinar matahari terbuka, melainkan seperti buronan yang menyembunyikan hasil jerih payahnya dari serbuan Midian yang kejam. Bangsa Israel sudah tujuh tahun mengerang di bawah penindasan ini, ladang dirampas, rumah dihancurkan, rohani kering kerontang karena dosa dan ketidaktaatan mereka kepada Tuhan. Gideon sendiri, dari suku Manasye yang lemah dan keluarga terkecil, merasa hancur: “Jika Tuhan benar-benar menyertai kami, mengapa semua malapetaka ini menimpa?”

Tanpa diundang, malaikat Tuhan tiba-tiba duduk di bawah pohon tarbantin, dekat Gideon, dan melontarkan sapaan yang seperti petir di siang bolong: “Tuhan menyertai engkau, hai pahlawan yang gagah berani!” Kata-kata itu absurd bagi mata manusia, di mana pahlawannya? Di depan malaikat hanya ada pria ketakutan yang bersembunyi, bukan jenderal gagah berpedang berkilau. Tapi inilah cara Tuhan berbicara: bukan mencerminkan apa yang terlihat sekarang, melainkan meramalkan apa yang akan Ia bentuk. Ia melihat bukan ketakutan Gideon, tapi potensi ketaatan; bukan asal-usul kecilnya, tapi rencana pembebasan besar bagi bangsanya.

Perhatikan urutan sapaan itu: dimulai dengan “Tuhan menyertai engkau,” bukan langsung “pahlawan.” Keberanian sejati Gideon bukan dari dirinya sendiri, karakter alaminya biasa saja, tapi dari realitas kehadiran Tuhan yang memihak, yang berjanji bertarung bersamanya. Kisah selanjutnya membuktikan: Gideon tak langsung jadi pemberani sempurna. Ia bergumul, minta tanda dua kali dengan bulu domba basah-kering, ragu-ragu melangkah. Tapi Tuhan sabar, memasukkan pergumulan itu ke dalam proses, mengajarkan bahwa pahlawan gagah berani adalah orang yang taat di tengah takut, langkah demi langkah, bukan tanpa takut sama sekali.

Jemaat yang terkasih, cerita ini bukan dongeng masa lalu, tapi cermin hidup kita hari ini. Banyak di antara kita sedang “menampi gandum” di tempat pemerasan anggur rohani: datang ke gereja tapi hidup dalam mode bertahan, menyembunyikan harapan dari “Midian-Midian” modern: krisis ekonomi, luka keluarga, tekanan pekerjaan, dosa yang berulang, rasa tidak layak karena masa lalu. Kita bertanya seperti Gideon: “Tuhan, kalau Engkau menyertai, mengapa hidupku begini?”

Inilah saat Tuhan datang ke ruang sembunyi itu, duduk dekat saudara, dan berfirman: “Tuhan menyertai engkau, hai pahlawan yang gagah berani!” Ia tak panggil saudara dari trauma, kegagalan, atau label manusia, tapi dari identitas baru di dalam Kristus: orang yang kupilih untuk membebaskan yang tertindas, memulihkan yang hancur, dan menjadi terang di kegelapan zaman ini. Dengarlah suara-Nya lebih keras dari suara ketakutanmu. Keluarlah dari persembunyian, taat dengan berani, karena Ia yang menyertai lebih besar dari segala raksasamu. Hari ini, biarkan sapaan ilahi itu mengubah cara pandangmu: bukan lagi korban, tapi pahlawan yang dipanggil Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *