Tahun Sudah Berganti, Kita Sudah Belum?

Tahun Sudah Berganti, Kita Sudah Belum?

Tanggal sudah berganti. Kalender baru sudah digantung. Angka tahun di ponsel dan laptop sudah otomatis menyesuaikan. Bahkan ucapan “Selamat Tahun Baru” sudah berkali-kali kita kirim dan terima.

Namun pertanyaannya sederhana, dan mungkin agak mengusik:

tahun sudah berganti, kita sudah belum?

Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengajak jujur. Karena sering kali, di awal tahun, yang benar-benar berubah hanyalah angka. Sementara kebiasaan, pola pikir, dan cara hidup kita masih berjalan seperti sebelumnya.

Yuk cermati, ada beberapa kesalahan kecil yang hampir selalu kita lakukan setiap awal tahun. Kesalahan yang sepele, kadang lucu, tetapi diam-diam menyimpan pelajaran iman.

Salah Menulis Tahun

Ini kesalahan paling klasik.

Tanggal sudah Januari, tetapi tangan masih menulis tahun lama. Bahkan kadang kita baru sadar setelah menandatangani dokumen atau menulis catatan penting.

Seolah-olah pikiran kita butuh waktu untuk menerima kenyataan bahwa tahun benar-benar sudah berganti.

Mungkin hidup kita juga sering seperti itu. Tahun sudah baru, tetapi pola pikir masih lama. Kita masih membawa koper lama: koper berisi kebiasaan, kekecewaan, dan kekhawatiran tahun lalu.

Padahal firman Tuhan mengingatkan:

“… yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17)

Resolusi Ditulis dengan Semangat, Ditinggal dengan Damai

Awal Januari adalah musim resolusi. Kita menulis target dengan penuh harapan. Hidup sehat. Lebih sabar. Lebih rohani. Lebih teratur.

Lalu, tanpa sadar, resolusi itu mulai jarang dibuka. Bukan karena niatnya buruk, tetapi karena hidup kembali berjalan apa adanya.

Kabar baiknya, Tuhan tidak menilai kita dari seberapa panjang daftar resolusi kita. Ia melihat kesetiaan dalam hal-hal kecil.

“Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar…” (Lukas 16:10)

Berharap Tahun Baru Langsung Lebih Mudah

Ada harapan diam-diam di hati banyak orang:

“Semoga tahun ini lebih ringan.”

Namun, bangun pagi di hari pertama tahun baru, kenyataannya hidup masih sama. Pekerjaan belum berubah. Tanggung jawab masih menunggu. Masalah belum pergi ke mana-mana.

Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup tanpa masalah. Tetapi Ia menjanjikan penyertaan.

“…Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20)

Menunda karena Merasa ‘Masih Awal Tahun’

Karena masih awal, kita merasa masih boleh santai.

Masih Januari, nanti saja seriusnya.

Padahal awal tahun justru undangan untuk melangkah dengan lebih sadar, bukan lebih lambat.

“…perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup…” (Efesus 5:15)

Ingin Langsung Berubah Total

Awal tahun sering membuat kita ingin berubah sekaligus: lebih rajin, lebih sabar, lebih rohani, lebih teratur, semuanya sekaligus.

Namun Tuhan bekerja melalui proses.

“…Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya…” (Filipi 1:6)

Lebih Sibuk Merencanakan daripada Menyerahkan

Rencana itu penting. Perencanaan itu baik. Tetapi sering kali kita terlalu sibuk menyusun skenario, sampai lupa menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.

“Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak” (Mazmur 37:5)

Membandingkan Awal Tahun Kita dengan Orang Lain

Media sosial penuh dengan cerita “awal tahun yang sempurna”. Kita melihat orang lain tampak siap, sukses, dan penuh rencana, lalu tanpa sadar membandingkan diri.

Padahal setiap orang berjalan dengan waktunya sendiri bersama Tuhan.

“…tiap-tiap orang menguji pekerjaanya sendiri…” (Galatia 6:4)

Mengira Tuhan Ikut Reset Seperti Kalender

Tanpa sadar, kita berpikir Tuhan baru “mulai bekerja” di Januari. Padahal Tuhan tidak pernah berhenti bekerja.

“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8)

Penutup

Mungkin kita memang perlu waktu. Tidak semua perubahan terjadi di hari pertama tahun baru. Tidak semua kebiasaan lama langsung hilang hanya karena kalender berganti.

Dan itu tidak apa-apa.

Tuhan tidak menunggu kita menjadi versi terbaik diri kita di minggu pertama Januari. Ia hanya mengajak kita untuk jujur dan mau melangkah, hari demi hari.

Jika hari ini kita masih salah menulis tahun, tidak masalah.

Yang penting, jangan terus menulis hidup dengan cara lama.

Tahun sudah berganti.

Pertanyaannya tinggal satu: kita sudah belum?

Kebenaran ini tidak hanya kita temukan dalam iman, tetapi juga dalam perjalanan manusia. Sejarah juga mencatat bahwa perubahan besar jarang terjadi seketika. Nelson Mandela, setelah bebas dari penjara selama 27 tahun, tidak langsung hidup dalam kenyamanan. Kebebasan tidak otomatis menghapus luka. Rekonsiliasi membutuhkan waktu, kesabaran, dan kerendahan hati. Tahun berganti, tetapi manusia tetap perlu proses.

Kiranya Tuhan menolong kita untuk terus bertumbuh, bukan dengan paksaan, tetapi dengan kesetiaan.

Selamat melangkah di tahun yang baru.

Tuhan menyertai setiap proses kita.

__Soli Deo Gloria

Jakarta, 1 Januari 2026

Christofel P. Simanjuntak

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *