Naung salpu taon na buruk i: Mandok Hata Antara Malu, Gugup, dan Air Mata
Setiap akhir tahun, umumnya pada keluarga Batak Kristen, suasana rumah biasanya berubah menjadi lebih hening. Kebaktian keluarga akhir tahun selalu menjadi momen yang menegangkan. Ibu menyiapkan hidangan, Ayah menyiapkan acara, dan anak-anak menyiapkan diri untuk tidak mengantuk serta kata-kata. Lalu terdengarlah lagu yang sangat akrab di telinga kita:
“Naung salpu taon na buruk i,
Jala ro ma taon na imbaru…”
Lagu ini bukan sekadar lagu dalam kebaktian. Ia adalah pengakuan iman. Ia menyimpan seluruh perjalanan setahun: sukacita yang sempat membuat kita tersenyum, luka yang belum sepenuhnya sembuh, kegagalan yang masih kita sesali, dan harapan yang kembali kita titipkan kepada Tuhan.
Namun, setelah lagu itu selesai dinyanyikan, sering kali muncul satu momen yang justru lebih menegangkan daripada kebaktian itu sendiri: mandok hata.
Bagi sebagian orang, mandok hata adalah momen yang ditunggu-tunggu. Bagi sebagian lainnya, ia justru menjadi momen yang ingin dilewati secepat mungkin. Ada yang tersenyum gugup. Ada yang tertawa kecil untuk menutupi rasa canggung. Ada pula yang menunduk lama, seolah-olah mencari kata-kata yang terselip di antara rasa malu dan rindu.
Aneh memang. Banyak dari kita mampu berbicara lancar di luar rumah. Kita bisa berargumen di tempat kerja, menyampaikan pendapat dengan lantang, bahkan memimpin rapat dengan percaya diri. Namun ketika berdiri di depan orang tua sendiri, pasangan hidup, atau saudara sedarah, kata-kata mendadak terasa berat. Lidah kelu. Hati berdebar.
Padahal, mandok hata bukanlah pidato. Ia bukan soal keindahan bahasa, bukan pula soal susunan kata yang sempurna. Mandok hata adalah keberanian untuk jujur.
Akhir tahun adalah salah satu waktu itu, waktu untuk berkata, bukan untuk membela diri, melainkan untuk membuka hati.
Kata yang Paling Sulit: “Maaf”
Jika kita jujur pada diri sendiri, kata yang paling sulit diucapkan dalam mandok hata sering kali bukanlah kalimat panjang atau doa yang indah, melainkan satu kata sederhana: maaf.
Maaf kepada orang tua karena sering membantah.
Maaf kepada pasangan karena sering kurang sabar.
Maaf kepada saudara karena sering menyimpan luka terlalu lama.
Ironisnya, kita sering memulai mandok hata dengan kalimat yang berputar-putar. Kita bicara tentang kesibukan setahun ini, tentang keadaan, tentang tantangan hidup. Namun kita lupa menyebut inti dari semua itu, yaitu pengakuan dan pertobatan.
Padahal firman Tuhan dengan jelas berkata:
“Akuilah kesalahanmu seorang kepada yang lain.” (Yakobus 5:16)
Mengakui kesalahan bukan tanda kelemahan iman. Justru di situlah iman dilatih untuk menjadi dewasa. Iman yang dewasa tidak sibuk membenarkan diri, tetapi berani merendahkan hati.
Sering kali, mandok hata menjadi momen di mana kita menyadari bahwa relasi yang retak tidak selalu disebabkan oleh peristiwa besar. Kadang, ia rusak oleh kata-kata kecil yang tidak pernah ditarik kembali, oleh sikap diam yang terlalu lama, atau oleh keegoisan yang tidak pernah diakui.
Ketika Orang Tua Juga Belajar Mandok Hata
Menariknya, mandok hata bukan hanya pergumulan anak-anak. Orang tua pun sering menghadapi pergumulan yang sama, bahkan lebih berat. Tidak mudah bagi seorang ayah atau ibu untuk berkata, “Kami juga minta maaf,” atau “Kami mungkin terlalu keras.”
Dalam budaya kita, orang tua sering dipandang sebagai pihak yang selalu benar. Namun di hadapan Tuhan, kita semua adalah manusia yang sama-sama belajar bertumbuh.
Ketika orang tua berani mengucapkan kata maaf kepada anaknya, sering kali suasana berubah. Air mata jatuh. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan. Ada tembok yang runtuh. Ada jarak yang dipulihkan.
Di situlah kita melihat bahwa mandok hata bukan sekadar tradisi adat. Ia adalah praktik iman yang hidup. Ia mengajarkan pengakuan, pengampunan, dan rekonsiliasi, inilah nilai-nilai yang sangat alkitabiah.
Rasul Paulus menasihatkan:
“Berkatalah benar seorang kepada yang lain.” (Efesus 4:25)
Berkata benar, tetapi juga dalam kasih.
Mandok Hata dan Lagu Akhir Tahun
Lagu “Naung Salpu Taon Na Buruk I” seolah menjadi bingkai rohani bagi mandok hata. Lagu itu mengingatkan kita bahwa tahun yang berlalu tidak selalu indah. Ada tahun-tahun yang berat. Ada doa-doa yang belum terjawab. Ada luka yang masih terasa.
Namun lagu itu juga menyatakan iman: Tuhan tetap memimpin. Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
Di situlah mandok hata menemukan maknanya. Kita tidak hanya menutup tahun secara administratif, tetapi juga secara rohani. Kita tidak hanya mengganti kalender, tetapi juga membersihkan hati.
Mandok hata mengajak kita bertanya:
Apa yang perlu saya akui sebelum melangkah ke tahun yang baru?
Siapa yang perlu saya minta maaf?
Hubungan mana yang perlu saya pulihkan?
Mandok Hata yang Sederhana tapi Tulus
Sering kali, orang enggan mandok hata karena merasa tidak pandai berkata-kata. Padahal mandok hata tidak menuntut keindahan bahasa. Ia menuntut ketulusan.
Cukup tiga hal sederhana:
Ucapkan terima kasih.
Terima kasih atas kesabaran, doa, dan kasih yang sering kali tidak kita sadari.
Akui dengan jujur.
Bukan dengan membela diri, tetapi dengan rendah hati.
Nyatakan pengharapan.
Bukan janji kosong, tetapi komitmen untuk berjalan lebih baik.
Yesus sendiri berkata:
“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” (Matius 5:5)
Kelemahlembutan bukan kelemahan. Ia adalah kekuatan yang menumbuhkan kehidupan.
Penutup: Mandok Hata sebagai Latihan Iman
Pada akhirnya, mandok hata bukan tentang siapa yang paling fasih berbicara. Ia tentang siapa yang berani membuka hati. Bukan tentang pidato yang mengesankan, tetapi tentang relasi yang dipulihkan.
Jika mandok hata kita disertai suara gemetar, tawa kecil, atau bahkan air mata, tidak apa-apa. Justru di situlah keindahannya. Karena iman yang hidup tidak selalu rapi, tetapi selalu jujur.
Akhir tahun ini, kiranya kita tidak hanya menutup kalender, tetapi juga membuka hati.
Tidak hanya menyanyikan lagu akhir tahun, tetapi juga menghidupi maknanya.
Selamat menutup tahun 2025.
Selamat mandok hata.
Kiranya Tuhan menyertai langkah kita memasuki tahun yang baru 2026, dengan hati yang lebih ringan dan iman yang lebih dewasa.
__Soli Deo Gloria
Jakarta, 31 Desember 2025
Christofel P. Simanjuntak
