Doa yang Tidak Terpenuhi, Iman yang Tetap Hidup

Doa yang Tidak Terpenuhi, Iman yang Tetap Hidup

Kemarin, 22 Desember, saya menghadiri sebuah kebaktian duka cita. Seorang ibu telah berpulang, meninggalkan seorang suami dan seorang anak perempuan yang baru menginjak dewasa. Ibadah berlangsung dengan khidmat, doa-doa penguatan dinaikkan oleh berbagai kategorial, dan …air mata pun tak terelakkan.

Namun ada satu kalimat yang terus tinggal dalam hati saya, bahkan setelah kebaktian selesai.

Dalam sambutan singkat sebagai ungkapan terima kasih kepada jemaat, ayah kandung dari almarhumah berkata dengan suara yang tenang, namun penuh beban:

“Anak saya pernah berjanji, bila sembuh akan melayani di gereja, ….” Sambil mengusapkan air mata.

Kalimat itu singkat. Tidak bernada menyalahkan. Tidak menuntut penjelasan. Namun justru di situlah letak kedalamannya. Sebuah doa yang dipanjatkan dengan harapan. Sebuah janji yang lahir dari iman. Namun akhirnya, tidak terwujud seperti yang diharapkan.

Barangkali banyak dari kita pernah berdoa dengan pola yang serupa: “Tuhan, jika Engkau menolong aku, aku akan…” Doa semacam ini bukan doa orang yang kurang iman. Justru sering kali doa itu lahir dari iman yang sedang berjuang bertahan. Dari hati yang berharap, tetapi juga takut kehilangan.

Iman Kristen tidak pernah menjanjikan bahwa setiap doa akan dijawab sesuai dengan keinginan manusia. Alkitab tidak menampilkan iman yang steril dari air mata, melainkan iman yang jujur, iman yang berani meratap di hadapan Tuhan.

Ayub, seorang yang saleh dan takut akan Tuhan, berulang kali meluapkan keluh kesahnya. Ia berharap penderitaannya segera diakhiri. Ia memohon penjelasan. Namun Tuhan tidak memulihkan Ayub seketika, juga tidak menjawab semua pertanyaannya. Yang Ayub terima adalah kehadiran Tuhan, dan itu ternyata cukup untuk menopang imannya.

Daud pun mengenal doa yang tidak dikabulkan. Dalam Mazmur, ia sering berseru, “Sampai kapan, ya Tuhan?” Ketika anaknya sakit, Daud berpuasa dan berdoa dengan sungguh agar anak itu diselamatkan. Namun anak itu tetap meninggal. Daud bangkit, menyembah Tuhan, dan melanjutkan hidupnya. Bukan karena ia tidak berduka, tetapi karena imannya tidak runtuh meski doanya tidak dijawab seperti yang diharapkan.

Yeremia, nabi yang setia, sering kali mengadukan kepedihannya kepada Tuhan. Ia berharap pelayanannya membawa pertobatan, berharap penderitaannya diringankan. Namun Tuhan tidak menarik panggilannya, juga tidak membebaskannya dari kesepian. Yeremia tetap menangis, tetap berbicara, dan tetap setia di tengah doa yang terasa tidak direspons.

Paulus pun mengalami hal serupa. Ia berdoa agar “duri dalam daging” diambil darinya. Namun Tuhan menjawab dengan cara yang berbeda: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” Doanya tidak dikabulkan, tetapi imannya justru diperdalam. Paulus belajar bahwa kuasa Tuhan nyata bukan dalam ketiadaan penderitaan, melainkan dalam kesetiaan menjalani kelemahan.

Dan yang paling mengguncang pemahaman kita tentang doa adalah Yesus sendiri. Di taman Getsemani, Ia berdoa dengan sungguh-sungguh agar cawan penderitaan itu berlalu. Namun doa itu tidak dikabulkan seperti yang dimohonkan. Salib tetap harus dipikul. Jalan penderitaan tetap harus dijalani. Namun justru melalui ketaatan itulah, kehidupan diberikan bagi banyak orang.

Kisah-kisah ini menegaskan satu hal penting: doa yang tidak terpenuhi bukan tanda iman yang gagal, dan bukan bukti Tuhan tidak mendengar. Kadang-kadang, Tuhan tidak mengubah keadaan, tetapi Ia menopang manusia yang harus menjalaninya.

Karena itu, ketika kita mendengar kalimat sang ayah dalam kebaktian duka itu, kita tidak perlu buru-buru mencari jawaban. Mungkin yang paling tepat adalah diam sejenak, dan mengakui bahwa iman memang tidak selalu berjalan di jalur yang mudah dipahami.

Pelayanan tidak selalu diwujudkan dalam kegiatan yang terlihat. Ada pelayanan yang berlangsung dalam kesabaran menghadapi sakit. Dalam kesetiaan menjalani hari-hari sulit. Bahkan dalam kematian yang mengingatkan banyak orang tentang rapuhnya hidup dan berharganya iman.

Iman Kristen bukanlah iman yang selalu mengerti kehendak Tuhan, melainkan iman yang tetap percaya ketika kehendak itu tidak kita pahami. Iman yang berani berkata, “Aku tidak mengerti, tetapi aku tetap berserah.”

Dan justru di sanalah iman yang tetap hidup itu nyata, bukan dalam doa yang selalu terkabul, melainkan dalam hati yang tetap berpaut kepada Tuhan, bahkan ketika janji tidak terpenuhi.

_Soli Deo Gloria

Jakarta, 23 Desember 2025

Christofel P. Simanjuntak

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *