Mazmur 74: 16
Punya-Mulah siang, punya-Mulah juga malam. Engkaulah yang menaruh benda penerang dan matahari.
Renungan:
“Terang yang Datang di Siang dan Malam”
Dalam Adven IV, gereja berdiri di ambang Natal: kita menanti Sang Terang yang datang, bukan ke dunia yang rapi, melainkan ke dunia yang sering gelap, bising, dan letih. Karena itu Mazmur 74:16 menjadi pengakuan iman yang sangat Adven: “Engkaulah yang empunya siang, juga malam; Engkaulah yang menempatkan terang dan matahari.” Di tengah keluhan dan kekacauan, pemazmur mengingat bahwa Tuhan tetap memegang waktu, bahkan ketika kita merasa Tuhan jauh.
Mazmur 74 sendiri lahir dari suasana krisis. Ada rasa kehilangan, luka, dan pertanyaan: “Tuhan, sampai kapan?” Namun tepat di situ muncul kalimat ini: Tuhan empunya siang dan malam. Artinya, tidak ada musim hidup, termasuk musim menunggu, yang berada di luar pemerintahan-Nya. Adven mengajarkan iman yang menunggu bukan dengan pasif, tetapi dengan tetap percaya bahwa Allah sedang bekerja, meski belum terlihat.
Di Adven IV, kita juga dekat sekali dengan kisah Maria, seorang perempuan, calon ibu, yang memasuki panggilan besar melalui jalan yang tidak mudah. Maria mengenal “siang”: ketaatan, keberanian, langkah konkret menerima kehendak Allah. Tetapi Maria juga mengenal “malam”: risiko sosial, ketidakpastian, ketakutan yang wajar, perjalanan yang melelahkan, bahkan kelak pedang yang menusuk hati. Namun di tengah siang dan malam itu, Allah menempatkan terang-Nya: Kristus hadir di dalam rahim seorang ibu, seakan berkata bahwa terang Allah sering bertumbuh di tempat yang paling sederhana, sunyi, dan tidak dipamerkan.
Di titik ini, Hari Ibu bertemu dengan Adven IV. Banyak ibu menjalani ritme siang dan malam dengan cara yang jarang disorot: mengasuh, bekerja, menopang keluarga, merawat yang sakit, mengatur rumah, menanggung kekhawatiran yang tidak selalu sempat diceritakan. Ada “siang” yang terlihat orang: hasil, keteraturan, keberhasilan anak. Tetapi ada juga “malam” yang hanya Tuhan tahu: doa yang lirih, air mata di dapur, kecemasan tentang masa depan, rasa sepi karena merasa harus selalu kuat. Mazmur 74:16 menegaskan: malam itu pun milik Tuhan, dan siang itu pun milik Tuhan, jadi ibu tidak pernah berjalan sendiri.
Kalimat “Engkau menempatkan terang dan matahari” memberi penghiburan khas Adven: terang itu ditempatkan oleh Tuhan, bukan diusahakan mati-matian oleh manusia. Dalam musim menanti, kita belajar membedakan dua hal: (1) beban yang Tuhan percayakan, dan (2) beban yang kita pikul karena perfeksionisme atau tuntutan lingkungan. Adven memanggil kita untuk meletakkan beban yang kedua itu kepada Tuhan, supaya ada ruang bagi terang Kristus bekerja dalam keluarga.
Hari Ibu juga menjadi panggilan bagi keluarga dan gereja untuk menghadirkan terang Kristus secara konkret. Merayakan ibu bukan hanya dengan kata-kata manis, tetapi dengan tindakan yang membuat “malam” ibu lebih ringan dan “siang” ibu lebih tertata. Karena ketika Kristus datang, Ia bukan hanya membawa pengajaran, tetapi juga membawa kehadiran, perhatian, dan pertolongan yang nyata. SELAMAT ADVEN IV, MENYAMBUT NATAL DAN HARI IBU.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th
