RENUNGAN HARIAN Rabu 19 November 2025

Matius 7: 26
Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.

Renungan:
“Ketika Hidup Dibangun di Atas Pasir”

Yesus menutup Khotbah di Bukit dengan sebuah gambaran yang sangat tajam: seseorang yang mendengar firman-Nya tetapi tidak melakukannya adalah seperti orang bodoh yang membangun rumahnya di atas pasir. Pada awalnya, rumah itu tampak baik-baik saja. Dari luar, mungkin terlihat kokoh, indah, dan meyakinkan. Tidak ada yang curiga bahwa fondasinya rapuh. Namun, ketika hujan turun, banjir datang, dan angin bertiup, seluruh bangunan itu runtuh dengan hebat. Kehancuran itu tidak terjadi karena rumitnya badai, tetapi karena rapuhnya dasar yang dipilih.

Ayat ini menyingkapkan realitas kehidupan rohani. Banyak orang mengenal firman, mendengar khotbah, mengikuti ibadah, bahkan terlibat dalam pelayanan, tetapi tidak membangunnya sebagai fondasi yang sejati. Yesus sedang menunjukkan bahwa perbedaan utama bukan pada seberapa sering seseorang mendengar firman, melainkan apakah firman itu menjadi dasar kehidupan sehari-hari—menentukan cara kita mengambil keputusan, cara kita memperlakukan orang lain, cara kita mengelola tanggung jawab, cara kita menahan diri dalam godaan, dan cara kita tetap setia dalam tekanan.

Membangun di atas pasir berarti mendasarkan hidup pada hal-hal yang mudah bergeser: emosionalitas, pujian orang, ego, kekayaan, jabatan, atau rutinitas agama tanpa ketaatan. Semua hal itu tampak kuat ketika cuaca cerah, ketika hidup sedang stabil. Namun ayat ini mengingatkan bahwa badai pasti datang. Dalam hidup ini, tidak ada satu pun manusia yang bebas dari hujan, banjir, dan angin. Penderitaan, kegagalan, kekecewaan, konflik keluarga, masalah ekonomi, penyakit, atau kesepian—semuanya adalah bagian dari badai yang menguji fondasi iman.

Yesus menolong kita melihat bahwa keteguhan hidup bukan dibangun oleh kekuatan pribadi, tetapi oleh ketaatan. Firman yang didengar tetapi tidak ditaati tidak akan mencegah kehancuran. Tetapi firman yang dihidupi—walau dengan langkah kecil, walau dengan pergumulan, walau tidak selalu sempurna—akan menjadi batu karang yang menopang.

Renungan ini mengajak kita melihat diri dalam terang firman: Apakah kita sedang membangun hidup dengan cepat tetapi tanpa fondasi? Apakah kita lebih sibuk membangun “rumah” yang terlihat indah—karier, posisi, pelayanan, prestasi—tetapi mengabaikan pekerjaan tersembunyi yang paling penting, yaitu membangun dasar ketaatan?

Yesus tidak sedang menakut-nakuti, tetapi sedang mengasihi kita. Ia ingin kita selamat ketika badai datang. Ia ingin rumah hidup kita berdiri dengan kukuh meskipun dihantam dari segala arah. Ia ingin kita menjadi murid yang bukan hanya mendengarkan, tetapi melakukan. Rumah di atas batu karang bukan dibangun dalam sehari; ia dibentuk dari keputusan-keputusan kecil untuk taat, untuk mengampuni, untuk jujur, untuk setia berdoa, untuk rendah hati, untuk mengasihi, untuk menolak kejahatan.

Akhirnya, renungan ini mengajak kita untuk bertanya: Di atas apa hidupku sedang berdiri? Jika selama ini kita menyadari bahwa fondasi kita lebih sering berupa pasir, ada kabar baik. Yesus tidak pernah terlambat mengundang kita membangun ulang dasar hidup kita. Ia menyediakan batu karang yang kokoh—diri-Nya sendiri dan firman-Nya—agar hidup kita berdiri, tidak hanya ketika tenang, tetapi juga ketika badai datang. Semoga kita menjadi orang yang membangun bukan hanya untuk terlihat, tetapi untuk bertahan.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *