Efesus 3: 18-19
Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Renungan:
“Kasih yang Melampaui Segala Pengetahuan”
Ayat ini adalah inti dari doa rasul Paulus bagi jemaat di Efesus. Di tengah pergumulan iman dan tekanan dunia yang mengikis kasih, Paulus tidak berdoa agar jemaat memiliki kekuatan fisik atau kesuksesan lahiriah, tetapi agar mereka memiliki pengenalan yang mendalam akan kasih Kristus. Sebab Paulus tahu: siapa yang benar-benar mengenal kasih Kristus, akan menemukan segala yang dibutuhkannya untuk hidup dalam terang Allah.
Ungkapan “lebar, panjang, tinggi, dan dalam” bukan sekadar simbol puitis, melainkan gambaran tentang kasih yang tak terukur. Kasih Kristus itu lebar, karena mencakup semua manusia tanpa batas ras, status, atau masa lalu. Kasih itu panjang, karena tidak pernah berhenti, terus setia menuntun dari awal hingga akhir hidup kita. Kasih itu tinggi, karena mengangkat manusia dari dosa menuju kemuliaan Allah. Dan kasih itu dalam, karena menembus lembah penderitaan, luka batin, bahkan kematian, untuk membawa kesembuhan sejati bagi jiwa.
Menarik bahwa Paulus menyebut kasih ini “melampaui segala pengetahuan.” Artinya, kasih Kristus bukan sesuatu yang dapat diukur oleh logika atau ditangkap sepenuhnya oleh nalar manusia. Ia harus dialami secara eksistensial, dirasakan di hati, dihayati dalam iman, dan diwujudkan dalam tindakan kasih. Banyak orang mengenal Kristus secara intelektual, tetapi belum mengalami kasih-Nya secara personal. Paulus menginginkan jemaat tidak hanya tahu tentang kasih, melainkan hidup di dalamnya, menjadi saksi kasih itu kepada dunia yang haus akan pengharapan.
Ketika seseorang dipenuhi oleh kasih Kristus, ia tidak lagi mencari pengakuan manusia. Ia tidak membalas kebencian dengan dendam, tetapi dengan pengampunan. Ia tidak hidup dari ego dan ambisi, tetapi dari kerendahan hati yang melayani. Inilah buah dari “dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah”, sebuah kondisi rohani di mana hidup kita menjadi cermin dari kasih yang tak terbatas itu.
Dalam konteks gereja masa kini, doa Paulus ini menjadi panggilan untuk kembali kepada pusat iman: kasih Kristus yang menyatukan dan memperbaharui. Di tengah dunia yang terfragmentasi oleh kebencian, politik identitas, dan kepentingan diri, kasih Kristus adalah energi ilahi yang melampaui segala pengetahuan manusia. Ia menyatukan yang tercerai, menyembuhkan yang terluka, dan menghidupkan yang mati secara rohani.
Kasih Kristus bukan teori teologi, melainkan kekuatan transformatif. Siapa pun yang menyelam ke dalam kedalaman kasih itu akan diubahkan, dari yang sombong menjadi rendah hati, dari yang membenci menjadi mengasihi, dari yang takut menjadi penuh iman. Kasih itu bukan hanya sesuatu yang kita terima, tetapi sesuatu yang mengalir melalui kita kepada sesama.
Kiranya doa Paulus juga menjadi doa kita hari ini: agar kita dapat memahami dan mengalami kasih Kristus yang tak terbatas itu, sehingga hidup kita dipenuhi oleh kepenuhan Allah, dan melalui kita, dunia melihat kasih yang benar, yang tidak berhenti di kata, tetapi hidup dalam tindakan.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th
