1 Yohanes 3: 2
Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.
Renungan:
“Menjadi Serupa dengan Dia”
Ayat ini menyingkapkan rahasia terdalam dari kehidupan orang percaya: identitas dan tujuan akhir kita di dalam Kristus. Yohanes tidak sedang berbicara tentang sesuatu yang abstrak, melainkan tentang realitas yang sedang berlangsung dan akan disempurnakan. Kita sudah anak-anak Allah, tetapi belum sepenuhnya menjadi seperti Dia. Ada ketegangan antara “sekarang” dan “kelak”, antara anugerah yang sudah kita terima dan kemuliaan yang sedang menanti untuk dinyatakan.
Ungkapan “kita akan menjadi sama seperti Dia” bukanlah janji kosong, melainkan pengharapan eskatologis yang mengubah cara kita hidup hari ini. Keserupaan dengan Kristus bukan hanya urusan masa depan di surga, tetapi proses yang dimulai sejak kita percaya. Roh Kudus sedang bekerja membentuk wajah Kristus dalam diri kita. Setiap penderitaan, perjuangan, dan ketaatan adalah bagian dari pemahatan ilahi agar kita semakin serupa dengan Anak Allah.
Frasa “sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya” menandakan puncak pengalaman iman: perjumpaan langsung dengan Kristus. Dalam dunia yang penuh kabut dan bayangan dosa, kita sering melihat Allah dengan samar. Tetapi nanti, tidak ada lagi tabir, penglihatan kita akan sempurna, dan pengenalan kita akan utuh. Seperti Musa yang wajahnya bercahaya setelah berbicara dengan Tuhan, demikian juga kita akan dipenuhi kemuliaan karena melihat Dia muka dengan muka.
Namun ayat ini juga menantang: apakah kita sedang hidup sebagai anak-anak Allah yang sedang dipersiapkan menuju kemuliaan itu? Banyak orang ingin menikmati janji “menjadi sama seperti Dia”, tetapi enggan melalui jalan salib-Nya. Padahal keserupaan dengan Kristus tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari ketaatan dan kasih yang rela berkorban. Di sinilah iman diuji, apakah kita sungguh menantikan Kristus dengan hidup yang mencerminkan kasih dan kekudusan-Nya.
Ketika dunia menawarkan citra diri palsu, status, kuasa, dan kesenangan, Firman ini menegaskan siapa kita sebenarnya: anak-anak Allah yang dipanggil untuk menyerupai Kristus. Dunia mungkin belum mengenal atau menghargai kita, sebab dunia juga tidak mengenal Dia. Tetapi nilai kita tidak ditentukan oleh pengakuan manusia, melainkan oleh panggilan surgawi yang memeteraikan kita dengan kasih-Nya.
Akhirnya, ayat ini adalah undangan untuk menatap masa depan dengan iman dan hidup masa kini dengan kesetiaan. Menjadi anak Allah berarti hidup dalam proses pembentukan yang penuh kasih. Dan kelak, ketika Kristus datang, semua proses itu akan mencapai puncaknya: kita akan menjadi serupa dengan Dia, tanpa cacat, tanpa dosa, dan penuh kemuliaan.
Inilah pengharapan yang memberi kekuatan bagi orang percaya untuk tetap teguh, tetap kudus, dan tetap mengasihi. Sebab kita tahu: yang kita nantikan bukan sekadar surga, melainkan Kristus sendiri, dan dalam perjumpaan itu, kita akan menjadi seperti Dia.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salam, Pdt. Tumpal H. Simamora, M.Th
